Liputan6.com, Jakarta Sakit kepala kerap dianggap masalah sepele, padahal jenis dan lokasinya bisa memberikan petunjuk penting dalam penyembuhannya. Salah satunya adalah sakit kepala yang terasa di bagian atas kepala, yang menurut dokter bisa dipicu oleh beberapa hal berbeda.
“Jenis sakit kepala yang paling sering dibicarakan biasanya adalah tension headache (sakit kepala tegang), migrain, dan cluster headache,” ujar dokter spesialis keluarga di PlushCare, Brittany Kunza.
Ia menambahkan bahwa nyeri ini bisa muncul akibat stres, dehidrasi, postur tubuh yang buruk, hingga masalah mata.
Dilansir dari Prevention, faktor lain seperti infeksi sinus atau tekanan darah tinggi juga bisa memicu sakit kepala di area tertentu.
“Sakit kepala bisa jadi sinyal adanya masalah kesehatan lain, jadi penting untuk mendengarkan apa yang tubuh kita coba katakan,” tambah Kunza.
Dengan memahami penyebabnya, pasien bisa lebih tepat menentukan langkah penanganan. Mulai dari perbaikan gaya hidup sederhana hingga pemeriksaan lanjutan jika gejala terasa semakin berat.
Penyebab Sakit Kepala di Ujung Kepala
Sakit kepala di atas kepala paling sering dikaitkan dengan tension headache atau sakit kepala tegang. Kondisi ini biasanya dipicu oleh stres, kelelahan, kurang tidur, dehidrasi, atau perubahan mendadak dalam konsumsi kafein.
“Rasa nyeri seringkali berasal dari otot-otot yang menegang di sekitar pangkal tengkuk, lalu menjalar ke atas kepala hingga ke belakang mata,” jelas dokter integratif dan pakar nyeri kronis, dr. Jacob Teitelbaum. Ia menambahkan, menekan area tertentu di pangkal tengkorak selama 45–60 detik bisa menimbulkan nyeri yang sama.
Selain itu, migrain juga bisa memunculkan rasa sakit serupa, biasanya disertai mual serta sensitif terhadap cahaya dan suara. Sedangkan pada kasus sinusitis atau alergi, peradangan dan sumbatan lendir dapat menekan saraf di kepala hingga memicu nyeri.
Cara Mengatasi dan Meredakan Nyeri
Langkah penanganan sangat bergantung pada penyebab utama. Untuk sakit kepala tegang, gaya hidup sehat menjadi kunci, misalnya cukup tidur, cukup minum air, menjaga postur tubuh, dan mengurangi stres.
“Sebagian besar sakit kepala jenis ini bisa diredakan dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang diminum segera setelah gejala muncul,” kata Kunza.
Jika NSAID tidak memungkinkan, misalnya pada ibu hamil atau penderita sakit lambung, parasetamol bisa menjadi pilihan. Selain obat, cara sederhana seperti kompres hangat di bagian belakang kepala, pijatan ringan di leher, hingga penggunaan krim mentol seperti balsam juga dapat membantu.
Untuk migrain, tersedia beragam produk pereda khusus, sementara sakit kepala akibat sinus biasanya membaik setelah peradangan ditangani.
Kapan Harus ke Dokter
Meski umumnya tidak berbahaya, ada kondisi tertentu yang mengharuskan pasien segera memeriksakan diri.
“Jika sakit kepala dirasakan sebagai yang terburuk dalam hidup, gejalanya cepat memburuk, atau disertai tanda mirip stroke seperti wajah mencong, lemah di satu sisi tubuh, atau sulit berbicara, segera cari pertolongan medis,” kata Kunza.
Hal yang sama berlaku bila sakit kepala muncul setiap bangun tidur, setelah beraktivitas berat, atau tidak membaik meski sudah mencoba berbagai cara sederhana.
“Jika masih ragu, jangan menunggu sampai parah. Jadwalkan pemeriksaan ke dokter untuk mendiskusikan gejala lebih lanjut,” kata ahli saraf di NYU Langone, dr. Shae Datta. Deteksi dini dapat membantu memastikan sakit kepala tidak berhubungan dengan masalah kesehatan yang lebih serius.